Friday, April 15, 2016

Menjadi Ibu Bekerja Itu Nggak Salah, kok

Entah berapa banyak saya membaca berbagai postingan image atau tulisan yang cukup ‘menohok’ tentang ibu bekerja. Pertanyaan saya, harus ya mem-posting tulisan atau image seperti itu?
Selama 9 tahun saya menjadi seorang ibu, hanya 1 tahun saya pernah merasakan nggak bekerja. Enam bulan saat cuti hamil dalam jangka waktu dua kali melahirkan, dan 6 bulan lagi (kalau nggak salah) ketika saya memutuskan ingin istirahat sejenak dari hiruk pikuk dunia kerja. Saya paham banget beratnya tanggung jawab seorang ibu rumah tangga. Dan, buat saya pribadi, every mom is working mom.
Jadi, saya suka mengelus dada kalau melihat teman-teman saya yang notabene seorang perempuan dan seorang ibu memposting tulisan yang menyindir ibu bekerja tega menitipkan anak seperti sebuah perhiasan. Atau menunjukkan bahwa anak akan lebih dekat dengan pengasuh dibanding ibunya kalau si ibu itu bekerja. Padahal,bekerja itu juga bisa menjadi wujud cinta dari ibu ke keluarga kok. Dan, nggak usah disindir-sindiri seperti itu pun, kami, ibu bekerja juga sudah punya ketakutan-ketakutan yang harus kami hadapi, tanpa perlu ditambah sikap nyinyir dari sesama ibu.
Every family is different and we are choosing to do what’s best for ours
Saat kalian sibuk menghakimi para ibu bekerja, mungkin kalian nggak tahu, berapa banyak ibu bekerja di luar sana yang pontang panting kerja dari pagi sampai malam hanya agar anak-anaknya bisa makan sehari tiga kali (iya makan sehari tiga kali, bukan untuk belanja barang bermerek). Atau karena mereka adalah tulang punggung keluarga. Iya, mencari nafkah itu memang tanggung jawab suami. Masalahnya, nggak semua perempuan beruntung mendapat suami mapan atau bertanggung jawab seperti suami kalian J. Jangan samakan semua ibu bekerja dengan (sebagian kecil) perempuan yang bekerja demi eksistensi. Karena masih banyaaaaaak ibu bekerja yang memang bekerja agar mereka bisa bertahan hidup.
Being a working mom doesn’t mean my family is not my first priority
Kemarin saat FGD, seorang member di forum, Ari, menceritakan bagaimana meskipun bekerja, prioritas utamanya tetap keluarga. Tahu cara dia melakukannya? Saat di kantor, sepenting apapun pekerjaan yang dia lakukan, kalau orang rumah menghubungi, dia akan selalu mengangkat. Dan, saat di rumah, sepenting apapun alasan orang kantor menghubungi dia, dia akan selalu membiarkan ponselnya tak terjamah, sedikitpun.
When it comes to spending time with my kids, we value QUALITY as much as QUANTITY
Kalau ada orang bilang ke saya, “Kalau emang lo cinta sama anak lo, ya lo resign dong Fi, fokus sama anak.” Pertanyaan saya adalah, yakin kalau udah di rumah bakalan lebih fokus sama anak-anak? Apa  kabar dengan teman saya yang sering di rumah tapi punya 3 ART untuk ngurusin satu orang anak? Dan dia malah sibuk arisan sana-sini, jalan sama teman-temannya. Jadi, anak akan lebih dekat dengan pengasuh atau ibunya, nggak bergantung dari apakah si ibu bekerja atau enggak! Tapi tergantung dari bagaimana ibu bisa memaksimalkan waktunya yang ada bersama si anak. That’s the point, mbak-mbak, mas-mas dan teman-teman sejagad raya!
image1
Jadi, mungkin, saat kalian mem-posting tulisan atau image yang niat awalnya untuk menunjukkan berapa beruntungnya kalian, pikirkan juga berapa banyak hati sesama ibu yang akan kalian sakiti. Jadi, sutralah, mari kita saling menghargai keputusan satu sama lain. Ibu bekerja nggak usah merasa jumawa karena bekerja (kalau memang ada yang begini) dan ibu rumah tangga juga nggak usah sibuk memposting betapa beruntungnya anak-anak kalian karena diasuh oleh ibunya sendiri.
Dan, bagi saya pribadi banyak hal yang bisa saya syukuri dengan menjadi ibu bekerja.Loving my job doesn’t make me any less of a mom dan dengan pede saya bisa bilang I can love my children and love my job.

source : http://mommiesdaily.com
penulis : Fia 

Yang Diingat Saat Capek Mengurus Rumah

Berapa banyak buku pernikahan yang sudah anda baca? Saya yakin banyak di antara anda yang sudah sering membaca tulisan-tulisan berisi tanggung jawab dan hak istri. Bahkan sebagian lagi mungkin sudah hapal dengan dalil-dali syar’inya sekaligus.
Dua tahun lebih saya menikah. Ya, belum tiga tahun. Saya merasakan betapa besarnya tanggung jawab seorang istri. Itu baru jadi istri. Karena saya belum jadi ibu.
saya-capek-ngurus-rumah
Mungkin terlalu remeh temeh bagi yang sudah bertahun-tahun menikah. Bisa juga sangat membosankan bagi mereka yang sebelum menikah punya segudang aktivitas beragam. Tapi boleh jadi sangat melelahkan bagi para “puteri” yang terbiasa dilayani pembantu ketika masih serumah dengan orang tua.
Di luar kacamata syar’i menikah bagi saya semacam tantangan. Namun lebih utama sebagai pembelajaran. Tantangan bagaimana bisa membuat mood suami selalu bagus ketika di rumah. Tantangan bagaimana keluarga suami harus jatuh cinta ke saya. Tantangan untuk bisa jadi wanita multi-tasking meski belum punya anak.
Di satu sisi menikah juga membuat kita belajar banyak hal.
Belajar sifat-sifat dan watak suami. Belajar bersabar. Belajar berkompromi dengan keadaan ketika idealitas kita jauh dari kenyataan. Belajar mengatur keuangan. Belajar mengatur waktu untuk bisa mewujudkan obsesi pribadi kita di sela-sela kegiatan mengurus rumah. Ya, itu hanya secuil. Sebab masih banyak lagi yang akan kita pelajari pasca-menikah.
Saya yakin mereka para istri terkadang dilanda rasa capek. Tak terkecuali saya. Kegiatan mengurus rumah, melayani suami, belajar di sekolah, menyelesaikan PR, muraja’ah pelajaran (itu nikmat belum punya anak, begitu kata teman Pakistan saya), muraja’ah hapalan qur’an untuk setoran di sekolah. Benar-benar cukup menyita waktu. Bagaimana kalau punya anak banyak ya? Bayangkanlah sendiri bagaimana rasanya.
Nah, saya punya cara ampuh untuk mengatasi penat yang menyerang, sementara pekerjaan  masih banyak yang harus diselesaikan. Di antara anda mungkin banyak yang sudah sering mempraktekannya.
Ketika lelah biasanya saya akan istirahat sebentar. Kemudian saya paksa jiwa saya untuk memberi nasihat.
“Wajarlah La kalo capek. Dunia kan tempat bercapek-capek. Kalau mau istirahat enak ya di surga sana. Tapi jangan mimpi bisa enak-enakan di surga sebelum ngrasain capek seperti ini.”
Subhanallah, energi saya terasa mulai menyala kembali.
“Emang kamu pikir caramu bisa masuk surga seperti apa? Ya, kayak ginilah. Ngurus rumah, bikin suami senang, patuh sama suamimu, sholat, puasa, dll.”
Oops, oke oke. Akhirnya, saya pun bersemangat lagi melanjutkan pekerjaan. Cara ini bisa juga meredam keinginan kita untuk banyak berkeluh kesah. Satu hal yang patut diingat, lakukanlah semuanya dengan meraih kecintaan Allah dan surga-Nya. Semua keletihan insya Allah terobati.
Bukankah dunia tempat untuk menanam dan akhirat tempat untuk menuai?
Bukankah dunia tempat persinggahan sedangkan akhirat negeri yang abadi?
Di mana lagi tempat para istri menanam pahala untuk akhiratnya kalau bukan di rumahnya?
Jadi, jangan pernah bosan membangun surga di rumah kita.

Riyadh, 5 Dzulqa’dah 1432
Selesai ditulis dengan penuh rasa cinta.
source : http://ummiummi.com

Mengatasi Kejenuhan Ibu Rumah Tangga



Status seseorang setelah menikah secara otomatis berubah, pria lajang kini menjadi suami, wanita lajang kini menjadi seorang istri, dengan tuntutan dan tanggung jawab masing-masing. Beban seorang istri bertambah dengan hadirnya seorang anak. 

Bagi istri yang secara purna waktu mengurus rumah tangga di rumah, seringkali mengalami kejenuhan dalam melakukan tanggung-jawabnya tersebut. 

Maka sekarang kita akan belajar menilai para ibu dengan lebih objektif dan yang kedua memberikan masukan-masukan untuk menolong para ibu mengatasi kejenuhan yang mereka harus hadapi.

Penyebab kejenuhan mengurus rumah tangga:
Tugas keseharian ibu rumah tangga relatif tidak memerlukan dan tidak menimbulkan stimulasi intelektual. Dewasa ini banyak wanita yang telah mengenyam bangku perguruan tinggi dan mungkin juga sudah bekerja, sehingga sudah terbiasa dengan tuntutan profesional yang menimbulkan rangsangan intelektual.

Begitu meninggalkan dunia kuliah dan dunia kerja kemudian terjun di dalam dunia mengurus rumah tangga secara purna waktu, tidak bisa tidak dia akan kehilangan sumber stimulasi intelektualnya itu.

Tugas ibu rumah tangga pada umumnya tidak berhubungan dengan manusia lain yang setingkat, setingkat dengan pengertian tingkat pengertiannya, kecerdasaannya, keluasannya. Jadi ibu rumah tangga harus berhadapan dengan anak-anak kecil yang tingkat kecerdasan, kematangannya jauh dibawah dirinya, dimana dalam hal ini ibu hanya memberi dan anak hanya menerima.

Sebagaimana manusia normal sudah tentu dalam bekerja kita membutuhkan baik itu rekan kerja maupun objek pelayanan yang dapat diajak untuk bertukar pikiran dan berbagi rasa serta pengalaman, tapi kalau dengan anak kecil kita tidak bisa.

Mengurus anak terutama anak balita merupakan sebuah tugas yang berat. Karena jadwal tidur anak yang tidak menentu membuat ibu rumah tangga letih yang akhirnya membuat tubuh tidak nyaman.

Mengatasi kejenuhan:
1. Jangan malu meminta bantuan. Entah itu bantuan suami, kerabat atau pun bantuan professional. Mungkin yang diperlukan bukanlah pengalihan tanggung-jawab melainkan bantuan singkat dan praktis seperti minta bantuan seseorang untuk diam di rumah selama 2 jam agar dia bisa pergi keluar berolah raga atau bertemu dengan kerabat atau teman untuk bersantai sejenak, dengan memberi pengertian kepada suami tentang beratnya beban ini supaya suami bisa berjalan searah dengan istri dalam menanggulangi masalah ini.

2. Jangan mengabaikan kebutuhan pribadi. Masa merawat anak balita sangatlah sukar bagi ibu untuk meninggalkan anak, selain kebutuhan anak yang tanpa henti, satu hal lain yang membuat ibu susah beranjak adalah rasa bersalah entah itu rasa bersalah meninggalkan anak demi kepentingan pribadi.

Namun tetap, penuhilah kebutuhan pribadi dan lakukanlah hal-hal yang menyenangkan hati kendati tidak sesering dulu. Ingatlah bahwa ibu yang bahagia, membuat anaknya pun bahagia. Sebaliknya ibu yang merana pada akhirnya membuat anaknya turut merana.

3. Jangan menjauh dari berdoa. Menyisihkan kesibukan yang begitu padat dan terus menerus akhirnya membuat tubuh dan jiwa terlalu letih untuk berdoa dan membaca Al Qur'an. walaupun hati ingin membaca namun kesempatan makin menyempit.

Maka saya sarankan, setelah suami kembali mintalah waktu untuk bersaat teduh, mintalah kesediaannya untuk mengawasi dan merawat anak selama kita bersaat teduh.